Kepala BNPB Hadiri Pembinaan dan Peningkatan Sinergi Penanggulangan Bencana di Sulbar

22 November 2019 17:13
Kepala BNPB Hadiri Pembinaan dan Peningkatan Sinergi Penanggulangan Bencana di Sulbar
Pembinaan dan peningkatan sinergi dalam penyelengaraan penanggulangan bencana antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah dihadiri sekitar 150 orang peserta, berlangsung di lantai IV kantor gubernur Provinsi Sulbar, Jalan Abd Malik Pattana Endeng, Simboro, Kabupaten Mamuju. (Bagus/Trans89.com)
.

MAMUJU, TRANS89.COM – Pembinaan dan peningkatan sinergi dalam penyelengaraan penanggulangan bencana antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah dihadiri sekitar 150 orang peserta, berlangsung di lantai IV kantor gubernur Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar), Jalan Abd Malik Pattana Endeng, Simboro, Kabupaten Mamuju, Kamis (21/11/2019).

Sambutan Gubernur Sulbar, Ali Baal Masdar (ABM) mengatakan, ancaman bencana yang ada di Provinsi Sulbar memberikan kontribusi yang jelas terhadap ancaman dari masing-masing bencana.

“Kondisi iklim, topografi, geografis dan demografis perlu dikaji lebih mendalam, agar kedepannya menghasilkan langkah yang sistematis, terarah, terukur dan terstruktur dalam setiap kegiatan penyelenggaraan penanggulangan bencana di wilayah Provinsi Sulbar,” kata ABM.

Menurutnya, sejarah telah mencatat, bahwa Provinsi Sulbar merupakan provinsi yang tidak terlepas dari ancaman bencana, meskipun frekuwensinya tidak terlalu banyak, namun yang jelas bencana ini sudah menyebabkan kerugian harta benda bahkan hingga hilangnya nyawa.

“Kejadian bencana Provinsi Sulbar diperoleh dari rekapitulasi sejarah kejadian bencana yang terdapat pada kajian resiko bencana yang terangkum dalam dokumen rencana penanggulangan bencana Provinsi Sulbar serta tambahan rekapitulasi data pilah bencana Sulbar,” tutur ABM.

Ia menjelaskan, berdasarkan hal tersebut, memberikan gambaran kejadian bencana dalam rentang waktu 15 tahun telah mengalami 10 jenis bencana, diantaranya banjir, gelombang ekstrim dan abrasi, gempa bumi, kebakaran hutan dan lahan, kegagalan teknologi kekeringan, epidemi dan wabah penyakit, tanah longsor, tsunami dan banjir bandang.

“Dari kejadian bencana tersebut, memberikan jumlah dampak kejadian sebanyak 115 kejadian dengan jumlah korban meninggal sebanyak 262 orang, luka-luka 1.300 orang, hilang 252 orang, pengunsi 16.844 orang, rumah rusak berat sebanyak 1.778 unit dan 1.175 unit rusak ringan, serta 665 hektar (ha) bencana Sulbar kerusakan lahan,” jelas ABM.

Dirinya menyebutkan, ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian kita bersama, kewenanganan penyelenggaraan penanggulangan diarahkan dengan menitikberatkan pada pencegahan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana melalui Program Pengurangan Bencana (PPB) resiko, orientasi, serta pemahaman siklus.

“Bencana merupakan satu kesatuan penanganan bencana yang terputus, akan tetapi merupakan suatu tinjauan yang holistik bencana, pelaksanaannya ditingkat lapangan dapat berkesinambungan dan bersinergi. Peningkatan kapasitas SDM (sumber daya manusia) aparatur dan masyarakat serta kelembagaan penanggulangan bencana merupakan suatu yang sangat strategis, maka sangat diperlukan upaya-upaya penguatan kapasitas, baik melalui diklat teknis formal penanggulangan melakukan gladi, simulasi table top ataupun dukung SDM sehingga SDM baik masyarakat senantiasa siapsiaga dalam menghadapi bencana yang akan datang,” sebut ABM.

Selanjutnya sambutan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Doni Munardo mengucapkan permohonan maaf kepada gubernur, karena beberapa kali rencana berkunjung ke Sulbar tapi gagal terus, karena ada sesuatu yang lebih penting yang perlu diselesaikan, dan Alahamdulillah hari ini kami bisa berkunjung ke Sulbar.

“Program waktu Presiden jaman Susilo Bambang Yudoyono (SBY) ada penanaman pohon terangbesi dan itu di berikan tanggungjawab per-Kodam masing-masing, dimana program itu berhasil. Tahun lalu Indonesia peringkat pertama korban terbanyak pada saat terjadi tsunami di Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng). Tahun ini korban kitapun kurang lebih 500 jiwa di sebabkan karena berbagai macam bencana alam,” ucapnya

Letjen Doni menyampaikan, peristiwa bencana alam yang terjadi di Makassar menimbulkan korban jiwa meninggal 461 jiwa, hilang 107 jiwa, total 568 jiwa.

“Kami lihat di Sulbar hutannya masih alami dan terjaga, akan tetapi apabila hutan tersebut tidak dijaga dan dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab, maka kita semua yang akan merasakan akibatnya. Kita harus menyadari pak gubernur, suka tidak suka, mau tidak mau, ada dua potensi di Sulbar yaitu kekayaan alam dan potensi bencana. Kami menyatakan bencana adalah peristiwa alam yang berulang,” paparnya.

Letjen Doni menyebutkan, dari 6 kabupaten yang ada di Sulbar yang mana masih kurang fasilitasnya itu yang kita utamakan, dan setiap ada kejadian itu kebanyakan perempuan serta anak-anak, kenapa terjadi seperti ini, mereka saling mencari standar operasional prosedur (SOP) yang akan datang tidak boleh lagi mencari ibunya atau anaknya.

“Menyangkut jalur-jalur evakuasi pemerintah tidak boleh memberikan ijin bangunan yang di daerah patahan, maka dari itu cari data, sehingga dinas terkait mengetahui dimana daerah patahan,” sebutnya. (Bagus/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya