Jurnalis di Pusaran Politik

22 November 2019 22:33
Jurnalis di Pusaran Politik
Irwan Hamsi. (Ist)

Oleh : Irwan Hamsi

JELANG pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak Tahun 2020 mendatang, saat ini sulit menjadi seorang jurnalis yang mengikuti hati nuraninya. Seperti Bill Kovach yang berani menyampaikan sesuatu yang menurutnya salah, walaupun ia mengobarkan persahabatannya.

Bill Kovach pernah membuat buku panduan untuk seluruh wartawan di dunia.

Dalam bukunya Kovach menulis beberapa elemen tentang keberpihakan jurnalis dalam sebuah pemberitaan. Seperti jurnalis yang independen sebagai pemantau kekuasaan.

Dalam hal ini saya berpendapat, memasuki tahun 2020, seharusnya jurnalis bukan sebagai media humas salah satu calon.

Seorang jurnalis yang baik adalah ia yang memantau calon untuk menginformasikan ke masyarakat. Jikalau ada sebuah ketidakpercayaan dari masyarakat kepada calon tertentu, ia berkewajiban memverifikasi informasi tersebut.

Belum lagi seorang jurnalis harus mengikuti hati nuraninya. Ia harus mempunyai sikap dalam sebuah media atau redaksi tempat ia bekerja.

Sehingga menjadi jurnalis tidak seharusnya mengikuti kehendak mutlak dari redaksi.

Redaksi juga sebenarnya tidak seharusnya memaksakan sesuatu hal untuk diikuti oleh para jurnalisnya. Sebab seorang jurnalispun mempunyai hati nurani dalam sebuah pemberitaan yang ia buat.

Jurnalis dan media sepatutnya harus independen dari sebuah kepentingan politik kekuasaan. Jurnalis dan media harus tetap berpihak, hanya saja keberpihakannya adalah pada kebenaran.

Loyalitas utama sebuah media adalah kepada masyarakat, bukan partai poltik (Parpol), atau kandidat dan jurnalis harus tetap tidak terpengaruh dari pihak yang mereka liput. (*)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya