Refleksi Peringati Hari Pahlawan Bagi Para Pemuda Aceh

09 November 2019 22:01
Refleksi Peringati Hari Pahlawan Bagi Para Pemuda Aceh
Ketua Imatra, Hendra. (Aljawahir/Trans89.com)

BANDA ACEH, TRANS89.COM – Ikatan Mahasiswa Tadu Raya (Imatra) mengucapkan selamat hari pahlawan nasional, semoga menjadi hari yang bersejarah bagi generasi penerus di masa yang akan datang.

“Dalam menyikapi hari pahlawan, ada banyak persoalan yang masih belum kunjung selesai, salah satunya bangsa Indonesia dihadapkan pada mahasiswa yang belakangan terlena dengan hal-hal yang kurang bermanfaat, banyak membuang waktu dengan cara yang kurang tepat,” ungkap Ketua Imatra, Hendra di Banda Aceh, Sabtu (9/11/2019).

Menurutnya, sebagai mahasiswa sekaligus agent of change (agen perubahan) bagi bangsa dan agama, sudah saatnya mereka sadar dan mulai memikirkan apa yang bisa diberikan untuk diri mereka sendiri, keluarga, lingkungan, dan negara secara umum.

“Berkaca pada kisah pahlawan-pahlawan Aceh terdahulu, dalam hal ini Teuku Umar, yang mana ketika perang Aceh meletus pada 1873, Teuku Umar ikut serta berjuang bersama para pejuang Aceh lainnya,” tutur Hendra.

Dirinya menjelaskan sejarah pada masa usianya baru 19 tahun saat itu, mulanya ia (Teuku Umar) berjuang di kampungnya sendiri, kemudian dilanjutkan dengan memperjuangkan Aceh Barat pada masa itu.

“Di usia beliau yang sangat muda itu pula, Teuku Umar sudah diangkat menjadi Keuchik Gampong (Kepala Desa) di daerahnya,” jelas Hendra.

Lain halnya dengan kisah Cut Nyak Dhien, kata Hendra, salah satu pahlawan perempuan Aceh yang mampu membuat Belanda tidak senang pada masa itu. Cut Nyak Dhien, setelah pernikahannya dengan Teuku Umar, bertempur bersama-sama melawan Belanda.

“Namun, ketika Teuku Umar gugur pada 11 Februari 1899, Cut Nyak Dhien tetap kukuh untuk berjuang di pedalaman Meulaboh bersama pasukan kecilnya, meski saat itu, usia Cut Nyak Dhien sudah tidak muda lagi dengan kondisi tubuh yang telah di grogoti berbagai penyakit,” katanya.

Hendra menyebutkan, semangatnya (Cut Nyak Dhien) tak pernah padam, bahkan saat ia berhasil ditangkap oleh Belanda dalam keadaan yang renta, ia masih memberontak.

“Sepenggal kisah Cut Nyak Dhien ini memberikan pemahaman bahwa tidak ada garis batas usia dalam berjuang untuk negeri,” sebutnya.

Hendra mengungkapkan, melalui sejarah perjuangan Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien dalam membela tanah indatu yang sangat tidak mudah, harusnya menjadi refleksi bagi kita semua, terutama bagi para mahasiswa dalam memotivasi diri untuk berani berinovasi secara spesifik, dalam pembangunan daerah, baik dari segi pendidikan, ekonomi dan lain sebagainya yang bersifat membangun.

“Pada dasarnya, dalam membangun sebuah daerah sangat bergantung pada mahasiswa dan pemudanya,” ungkapnya.

Lanjut Hendra, sudah saatnya para mahasiswa menerapkan ilmu-ilmu yang diperoleh di kampus untuk diimplementasikan di daerahnya masing-masing. Dan tentunya di hari pahlawan ini, kita sama-sama berharap, banyak pahlawan-pahlawan baru yang akan muncul dengan membawa perubahan perubahan serta inovasi yang membangun.

“Saya percaya, kita sebagai mahasiswa dan agent of change, akan mampu membawa perubahan-perubahan baik bagi bangsa dan daerah, dengan mulai melakukan perubahan-perubahan terhadap diri sendiri terlebih dahulu,” demikian Hendra. (Alja/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya