Keterikatan Pilkades Dengan Pemilu Lain

05 November 2019 21:52
Keterikatan Pilkades Dengan Pemilu Lain
Irwan Hamsi. (Ist)

Oleh: Irwan Hamsi

PEMILIHAN kepala desa (Pilkades) merupakan salah satu bentuk pesta demokrasi yang begitu merakyat.

Pemilu tingkat desa ini merupakan ajang kompetisi politik yang begitu menarik kalau dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran politik bagi masyarakat.

Seperti pada pada momen kali ini di Kabupaten Pasangkayu, Sulawsi Barat (Sulbar), masyarakat yang akan menentukan siapa pemimpin desanya selama 6 tahun ke depan.

Banyak bentuk pesta demokrasi yang telah digelar dalam kehidupan politik kita sekarang, seperti Pilpres, Pilkada, Pilgub, Pileg dan tidak ketinggalan adalah Pilkades.

Begitu menarik bagi saya untuk memandang lebih dalam tentang budaya Pilkades ini.

Dalam pelaksanaannya, begitu menariknya pada momen Pilkades setiap calon banyak keterkaitan dengan pihak-pihak yang punya kepentingan untuk kepentingan pemilihan selanjutnya. Sehingga, masyarakat perlu perhatikan atau cermati dari tiap calon pemilih dalam menilai calon pemimpin yang akan dipilihnya tersebut.

Namun Pilkades terasa lebih spesifik dari pada pemilu-pemilu lainnya, yaitu adanya kedekatan dan keterkaitan secara langsung antara pemilih dan para calon. Sehingga, suhu politik di lokasi pemilihan sering kali lebih terasa.

Tak ketinggalan menurut pandangan saya, unsur kolusi dan nepotisme masih begitu kental membudaya di ajang pilkades ini. Demikian juga dengan unsur money politic (Politik uang) yang sering dijadikan iming-iming dorongan dalam pemilihan.

Di sinilah pendidikan politik perlu dikembangkan. Kerelaan berkorban untuk kepentingan desa yang juga merupakan bagian dari bangsa dan negara ini tentu perlu diwujudkan.

Tidak semua pengorbanan harus diukur dengan kontribusi uang. Kalau budaya money politic di tingkat desa bisa dikikis, tentu sedikit demi sedikit pada pemilihan selanjutnya akan dapat diwujudkan proses pemilihan pelaksanaan pemerintahan yang jujur dan adil.

Pilkades merupakan bagian dari proses kegiatan politik untuk memperkuat partisipasi masyarakat, sehingga diharapkan akan terjadi perubahan yang signifikan di tingkat pedesaan.

Money politic dengan berbagai bentuk sulit sekali dihindari. Kemudian sejak era reformasi, masyarakat dibudayakan dengan pemilihan pimpinan dengan cara pemilihan langsung.

Dengan adanya pilkades, di harapkan masyarakat dapat terlatih untuk peduli kepada pemimpinnya, serta sadar terhadap apa, siapa, dan bagaimana pemimpin yang akan di pilih nanti.

Dalam pemilihan pemimpin desa yang harus diutamakan ialah tentang kapabilitas dari calon-calon pemimpin tersebut. Suatu desa tidak hanya dapat dipimpin oleh pemimpin yang bermodalkan dari popularitas saja, namun cacat secara intelektual, moral dan sosial. (*)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya