Aktivis Muda Perempuan Aceh Kritisi BPSDM Terkait Beasiswa

31 October 2019 14:24
Aktivis Muda Perempuan Aceh Kritisi BPSDM Terkait Beasiswa
Aktivis Muda Perempuan Aceh, Rahmatun Phounna. (Aljawahir/Trans89.com)

BANDA ACEH, TRANS89.COM – Pasca terbongkarnya bobrok pemainan pihak Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Aceh terkait proses penerimaan Beasiswa S1, S2 dan S3 beberapa waktu yang lalu, ikut di komentari aktivis muda perempuan Aceh, Rahmatun Phounna.

Rahmatun Phounna mengatakan, terkait persoalan di BPSDM, dirinya mengaku sudah tidak heran lagi dengan pemberitaan oleh beberapa media.

“Pasalnya, hal semacam ini selalu terjadi perbincangan hangat di publik ketika proses penerimaan Beasiswa di umumkan. Hal semacam ini saya sudah sering mendegar, mungkin pada tahun-tahun sebelumnya tidak ada orang yang berani bongkar kepublik. Tahun ini, begitu ada yang bongkar ke publik, ketahuan semua bobrok di BPSDM,” kata Phounna.

Dirinya merasa sangat kecewa dengan permainan dan perilaku penyalahgunaan wewenang dalam proses penerimaan Beasiwa di BPSDM Aceh.

“Jujur saja, saya sangat kecewa dengan praktek-praktek semacam ini. Aturan yang telah mereka buat, justru mereka di lecehkan sendiri dengan melewatkan salah orang yang tidak memiliki Loa (Letter Of Accepted),” ujar Phounna di Banda Aceh, Kamis (31/10/2019).

Menurutnya, padahal di ketentuan syarat sudah sangat jelas disebutkan bahwa syarat untuk S2 maupun S3 ke luar negeri sudah memiliki Loa, kenapa tiba-tiba yang lewat justru yang tidak memiliki Loa.

“BPSDM Aceh khusus dibentuk dan di alokasikan anggaran yang cukup besar tak lain adalah ingin mengejar ketinggalan dalam kontes pembangunan SDM Aceh dalam membangun Aceh pasca konflik berkepanjangan. Namum cita-cita tersebut jauh dari harapan rakyat Aceh secara khusus. Ratusan milyar anggaran yang telah di anggarkan untuk sektor peningkatan kualitas SDM Aceh belum berimplikasi pada peningkatan kualitas sektor pendidikan Aceh, baik pada jenjang pendidikan di sekaloh hingga perguruan tinggi (PT) sekalipun,” tutur Phounna.

Ia menjelaskan, tentu hal ini merupakan pukulan terberat dalam sejarah perjalanan Aceh menuju suksesnya program Aceh Caroeng yang di gagas oleh pasangan Gubernur Irwandi-Nova. Persoalan mendasar tak lain adalah kurang profesionalitas dan integritas pihak-pihak yang diberikan kepercayaan untuk mengelola uang rakyat yaitu BPSDM.

“Bagaimana kita mau bangkit dari keterpurukan pada kualitas SDM, orang-orang yang dipercaya untuk mengurus anggaran pendidikan tidak memiliki integritas dan komitmen untuk memajukan aceh kedepan. Sederhananya, pihak yang diberikan kepercayaan cukup menjalan standar ketentuan yang telah dibuat dan disepakati secara bersama,” jelas Phounna.

Phounna menambahkan, siapapun dia, apabila tidak memenuhi standar kententuan tidak bisa dilewatkan.

“Hal ini sangat perlu dilakukan untuk membangun jati diri dan marwah Aceh kedepan yang lebih maju,” tambahnya. (Alja/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya