Serikat Perempuan Indonesia Unjuk Rasa Kampanye Global Hari Ketiadaan Pangan Sedunia

17 October 2019 00:59
Serikat Perempuan Indonesia Unjuk Rasa Kampanye Global Hari Ketiadaan Pangan Sedunia
Aksi Serikat Perempuan Indonesia Ranting (SPI) Untirta depan kampus Untirta Jalan Raya Jakarta, Pakupatan, Kota Serang, Banten. (Bayu B/Trans89.com)

SERANG, TRANS89.COM – Aksi unjuk rasa Serikat Perempuan Indonesia (SPI) Ranting Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) dan Organisasi Massa Demokratis Nasional (OMDN) dalam rangka peringati Hari Perempuan Desa Internasional (HPDI) diikuti 25 orang peserta aksi dipimpin Kiki dan Seruni, depan kampus Untirta Jalan Raya Jakarta, Pakupatan, Kota Serang, Banten, Rabu (16/10/2019).

Massa aksi membawa spanduk bertuliskan, kampanye global Hari Ketiadaan Pangan Sedunia.

Orasi Kiki mengatakan, HPDI diperingati setiap tanggal 15 Oktober, dan ditetapkan oleh Komisi Perempuan PBB pada tahun 1995 di Beijing, Tiongkok. Penetapan HPDI bertujuan untuk memberikan perhatian pada peran perempuan dalam produksi pertanian dan pangan, serta untuk mewujudkan kedaulatan pangan. Sedangkan Hari Ketiadaan Pangan Sedunia ditetapkan pada tahun 2008 oleh gerakan rakyat secara global, khususnya organisasi gerakan kaum tani bersama berbagai lembaga dan organisasi yang memiliki focus pada pertanian dan pangan.

“Kesepakatan organisasi gerakan rakyat dunia untuk mengubah hari pangan sedunia menjadi hari ketiadaan pangan sedunia. Hal ini didasarkan pada kenyataan objektif kaum tani dan rakyat dunia yang masih terjerat kemiskinan dan kelaparan dalam jumlah yang besar dan terus meningkat,” kata Kiki.

Menurutnya, monopoli produksi dan distribusi pertanian dan pangan dunia yang dilakukan oleh korporasi besar dunia dan nasional, semakin hari semakin meluas, sehingga menyebabkan hilangnya tanah sebagai sumber penghidupan utama, sempitnya lapangan pekerjaan, meningkatnya kemiskinan dan pengangguran di Indonesia, telah memaksa jutaan kaum tani bermigrasi dari desa ke kota dan menjadi tumpukan tenaga kerja murah, atau bahkan menjadi buruh migran di luar negeri yang minim akan perlindungan dan jaminan keselamatan dari pemerintah.

“Begitupun juga dengan kondisi kaum perempuan di Indonesia yang semakin hari semakin buruk keadaannya dan tidak menunjukkan kemajuan yang baik. Mayoritas perempuan Indonesia hidup di pedesaan dan terikat dalam hubungan produksi pertanian. Perempuan desa secara langsung mengalami kesulitan untuk mengakses tanah, mahalnya biaya produksi pertanian dan murahnya harga hasil produksi pertanian,” jelas Kiki.

Ia menjelaskan, kemiskinan dan pandangan budaya patriarkal telah memberikan dampak berlipat terhadap kaum perempuan. Selain melakukan pekerjaan rumah, perempuan juga melakukan berbagai pekerjaan produksi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

“Namun perempuan tetap tidak mendapatkan pengakuan yang setara atas peran dan kedudukannya dalam kerja pertanian maupun produksi ekonomi lainnya, termasuk tidak pernah dilibatkan oleh pemerintah dalam proses pembuatan kebijakan,” jelas Kiki.

Kiki menyebutkan, adanya permasalahan lain yang tentu tidak bisa dilupakan adalah bencana asap yang disebabkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan dan Sumatera yang dilakukan oleh korporasi besar yang memiliki izin berupa HGU (hak guna usaha) dari pemerintah. Kemudian represifitas yang terus menerus dilakukan oleh negara terhadap rakyat Papua ditengah situasi pengerukkan sumber daya alam (SDA) di tanah Papua yang tiada henti.

Selain itu, adanya berbagai macam tindakan dan kebijakan yang dijalankan oleh negara di legitimasi oleh peraturan Perundang-undangan dan produk hukum lainnya untuk memuluskan segala kepentingan imperialis dan tuan tanah besar di Indonesia. Kami menuntut, stop monopoli tanah, stop penjarahan SDA, kontrol atas produksi pertanian, hentikan pemiskinan dan akhiri kelaparan rakyat, dan wujudkan reforma agraria sejati dan industrialisasi nasional sebagai fondasi kedaulatan pangan,” demikian Kiki. (Bayu/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya