BATAN Kembangkan Penelitian Bioremediasi Untuk Perbaikan Kualitas Lahan

07 October 2019 18:03
BATAN Kembangkan Penelitian Bioremediasi Untuk Perbaikan Kualitas Lahan
Kedua dari Kiri ke Kanan: Kepala Pair Batan Totti Tjipto Sumirat, Peniliti Pair Batan Nana Mulyana, sambil menunjukan IKMR, Kepala Bidang Industri dan Lingkungan Pair Batan Roziq Himawan di acara konferensi pers di Ruang Muda, Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi, Pasar Jumat, Jakarta Selatan (Ist)

JAKARTA, TRANS89.COM – Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) melalui Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR) mengembangkan penelitian pemanfaatan teknologi nuklir untuk bioremediasi atau perbaikan kualitas lahan pertanian.

Siaran pers Humas BATAN, kondisi lahan pertanian yang semakin menyempit menjadikan salah satu alasan untuk meningkatkan kualitas lahan pertanian agar tetap produktif.

Kepala PAIR, Totti Tjiptosumirat mengatakan, pada dasarnya kondisi lahan pertanian di Indonesia ada yang subur dan ada yang tidak subur. Kondisi tidak subur ini di karenakan kurangnya kandungan mikroorganisme di dalam tanah yang mempunyai fungsi tinggi dalam meningkatkan daya tumbuh tanaman.

“Penelitian perbaikan kualitas lahan pertanian ini tidak bermaksud menciptakan mikroba yang baru yang tidak terkendali, tetapi melalui teknologi nuklir kita menciptakan wadah yang merangsang mikroba yang dibutuhkan tanah untuk berkembang biak dengan baik,” kata Totti pada acara konferensi pers pekan lalu di Ruang Muda, Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi, Pasar Jumat, Jakarta Selatan, Senin (30/9/2019).

Menurutnya, dengan menciptakan wadah yang tepat, mikroba dapat hidup dengan baik dan mampu menyerap nitrogen dari udara yang sangat dibutuhkan oleh tanaman.

“Pemberian mikroba pada lahan yang dinyatakan kurang subur dapat mengubah kualitas lahan menjadi subur, sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik,” tutur Totti.

Peneliti Bidang Industri dan Lingkungan BATAN, Nana Mulyana menyampaikan, ketidaksuburan tanah pada dasarnya dikarenakan lapisan atas tanah atau top soil yang sering disebut dengan tempat pertumbuhan akar atau rizhosfer.

“Kerusakan pada top soil ini dapat terjadi secara alamiah, yakni akibat adanya erosi baik dari angin ataupun air, sehingga mengikis lapisan atas tanah,” papar Nana.

Ia menjelaskan, kegiatan manusia melakukan penambangan juga dapat merusak lapisan atas tanah. Kegiatan penambangan biasanya berakibat pada terkelupasnya lapisan atas tanah, sehingga yang berada di lapisan atas adalah sub soil, dan lapisan ini tidak subur.

“Kegiatan penelitian bioremediasi ini sudah lama dilakukan, mengingat kondisi lahan di Indonesia menurut data dari Kementerian Pertanian (Keentan) menunjukkan 72% merupakan lahan yang tidak subur. Untuk itulah perlu dilakukan berbagai upaya bioremediasi untuk mengembalikan kondisi lahan agar menjadi lahan yang produktif,” jelas Nana.

Dirnya menyebutkan, hal pertama yang dilakukan dalam kegiatan bioremediasi adalah melakukan identifikasi terhadap kondisi lahan dan penyebab kerusakannya. Kemudian dikembangkan dan dilakukan menyebaran mikroorganisme fungsional yang mampu meningkatkan daya tumbuh pada tanaman.

“Dalam mengembangkan mikroorganisme untuk keperluan perbaikan kualitas tanah, kita hanya mengembangkan mikroorganisme lokal bukan mikroorganisme dari luar negeri. Hal ini dilakukan karena mikroorganisme luar negeri bisa saja mempunyai sifat yang invasif yang dapat menggeser mikroorganisme lokal yang sebenarnya sangat dibutuhkan oleh tanaman,” sebut Nana.

Nana mengungkapkan, dengan memanfaatkan teknologi nuklir, wadah atau media yang digunakan untuk menyimpan mikroorganisme diradiasi dengan sinar gamma pada dosis 25 kGrey memastikan kualitas mikroorganisme dapat terjaga kualitasnya selama dalam penyimpanan hingga 1 tahun.

“Mikroorganisme yang disimpan dalam wadah yang sudah diiradiasi misalnya sejumlah tertentu, maka setelah disimpan dalam waktu 1 tahun jumlahnya tetap dan tidak berkurang,” ungkapnya.

Lanjut Nana, hasil penelitian ini telah diujicobakan di beberapa daerah, seperti di Cepu, Brebes, Tangerang Selatan, dan Kepulauan Bangka menunjukkan hasil yang bagus.

“Sosialisasi terhadap hasil penelitian ini masih sangat diperlukan, agar masyarakat mengetahui dan memanfaatkannya untuk meningkatkan kualitas kesuburan tanah,” demikian Nana. (Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya