Aksi Solidaritas Masyarakat Minang Menuntut Penyelesaian Kisruh Wamena Papua

07 October 2019 00:37
Aksi Solidaritas Masyarakat Minang Menuntut Penyelesaian Kisruh Wamena Papua
Aksi solidaritas Forum Masyarakat Minang (FMM) Sumbar menuntut penyelesaian kisruh Wamena, Papua, berlangsung depan kantor Gubernur Sumbar, Jalan Jenderal Sudirman, Kota Padang. (Yudhistira/Trans89.com)

PADANG, TRANS89.COM – Aksi unjuk rasa solidaritas Forum Masyarakat Minang (FMM) Sumatera Barat (Sumbar) menuntut penyelesaian kisruh Wamena, Papua, diikuti sekitar 700 orang peserta aksi dipimpin Irfianda Abidin, berlangsung depan kantor Gubernur Sumbar, Jalan Jenderal Sudirman, Kota Padang, Minggu (6/10/2019).

Organisasi masyarakat tergabung dalam FMM Sumbar, KSPSI Sumbar, Paga Nagari, Majelis Mujahidin, Pemuda Hijrah, Ahsan, Cahaya Nurul Islam, Majelis Taqlim, dan Pesantren Daruul Muwahhidin Kabupaten Batusangkar.

Sekitar 300 orang massa aksi berkumpul di Halaman Masjid Raya Sumbar kemudian long march menuju ke kantor Gubernur Sumbar dan tidak lama berselang aksi terus bertambah berjumlah sekitar 400 orang.

Sambutan Pemprov Sumbar diwakili Kepala Badan Kesbangpol Sumbar, Naswir mengucapkan salam dari Gubernur, Wakil Gubenur dan Sekprov yang berhalangan hadir disini. Aksi damai ini adalah kepedulian kita untuk perantau kita (Minang) yang telah mendapat musibah di Wamena.

“Waktu Wakil Gubenur datang ke Wamena membawa bantuan kesana. Kita sudah berusaha untuk masyarakat kita yang berada di Wamena untuk memulangkan dan sebagian perantau kita sudah ada yang sampai di kampung dan sebagian masih ada yang dalam perjalanan. Kami ucapkan terima kasih atas peratian atas masyarakat kita yang telah menggalang sumbangan untuk korban untuk perantau kita di Wamena,” ucapnya.

Perwakilan dari Pariaman, Ustad Zulhe Kholik mengatakan, hidup dan mati kita untuk Allah, bukan untuk yang lain. Jika hidup dan mati kita sudah untuk Allah, maka kita akan selamat dunia dan akhirat.

“Hari ini kita boleh bangga kita dengan dudukan dan pangkat yang kita miliki, tapi ingat, nanti akan dipertanggungjawakan di hadapan Allah. Jika kamu menolong agama Allah, Allah akan menolong kamu. Tidak ada yang berhak menciptakan hukum di dunia ini kecuali hukum Allah,” katanya.

Irfianda Abidin menyampaikan, masih banyak korban yang berada di bandara Wamena, bahkan orang Minang yang terlantar disana, kita harus memikirkan bagaimana nasib mereka kedepanya.

“Kita harus memikirkan aset-aset orang Minang yang berada di Wamena supaya tidak hilang begitu saja. Mari kita tunjukan kepedulian kita terhadap korban kerusuhan orang Muslim di Wamena,” paparnya.

Penyampaian saksi hidup orang Minang tragedi di Wamena, Erizal menceritakan, pada saat kejadian di Wamena, semua dibakar, toko-toko dibakar, dan dirinya dikejar oleh pelaku.

“Saya lari kerumah adat orang Papua dan selamat, karena saya pura-pura meninggal. Pada saat kejadian, aparat tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya menembak keatas dan kebawah. Orang Minang yang meninggal di Wamena berjumlah 9 orang termasuk istri, anak dan keponakan saya,” ceritanya.

Ustadz Jell Fatullah menyebutkan, orang Minangkabau adalah orang yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai adat, oleh karena itu, masyarakat Minangkabau baik dirantau mereka akan selalu menghargai adat istiadat dimana tempat mereka merantau, dan kepentingan orang Minangkabau merantau itu pada umumnya hanya untuk berniaga dan mensyiarkan agama Islam.

“Sejarah juga telah membutikan, masyarakat Minang banyak menjadi tokoh-tokoh penegak Syariat Islam baik di dalam negeri maupun diluar negeri. Kita di dunia ini hidup merantau, orang Minang dikenal dengan perantau, orang Minang dibekali oleh sopan santun dan adat orang Minang berbuat baik dimanapun. Sekarang kenapa dia (orang Minang) diganggu, orang Minang bukan penganggu,” sebutnya.

Jell menjelaskan, dimanapun orang Minang berada, mendirikan Masjid Minangkabau. Untuk perantau Minang di tempat-tempat lain jaga bahasa daerah kita, jaga kekompakan, kami yang berada dirantau tidak akan melupakan Minang sedarah.

“Orang Minang pendatang kenapa diganggu, sedang orang China penganggu kenapa tidak diganggu? Kenapa OPM (organisasi Papua merdeka) masih dinamanakan dengan KKB (kelompok keras bersenjata), sedangkan mereka menggunakan senjata dan kenapa penyelesaian masalahnya oleh Polisi bukan TNI? Kami percayakan kepad pemerintah untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di Wamena, kami akan terus menggalang dana untuk tragedi di Wamena,” jelasnya.

Tuntutan masyarakat Minangkabau atas kerusuhan yang terjadi di Wamena, Papua, dibacakan Ketua FMM Sumbar, Irfianda Abidin mengungkapkan, Pemprov Sumbar harus proaktif melakukan segala bentuk negoisasi-negoisasi yang dibutuhkan dengan pihak pemerintah pusat dan pemerintah Papua untuk menjamin keberadaan serta keamanan perantau Minang kedepannya.

“Pemerintah dan segala unsur-unsurnya harus menjamin terhadap aset yang dimiliki oleh perantau Minang di Papua. Pemerintah harus mengganti rugi semua aset perantau Minang yang dibakar, dirusak dan dijarah oleh perusuh. Pemerintah dan segala unsur-unsurnya harus fokus menyelesaikan persoalan yang terjadi di Papua. Pemerintah harus menghukum semua pelaku kerusuhan di Wamena yang meruska, membakar dan membunuh secara keji para korban. Pemerintah harus mengevaluasi kinerja Kapolri terkait kasus di Papua. Pemerintah harus meningkatkan status kejahatan OPM dari KKB menjadi pemberontak/saparatis/gerakan pengacau keamanan,” ungkapnya.

Selanjutnya penggalangan dana yang terkumpul untuk Wamena Rp160 juta. (Yudistira/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya