Aksi Solidaritas GUIB Magetan Terkait Kerusuhan di Papua

06 October 2019 18:01
Aksi Solidaritas GUIB Magetan Terkait Kerusuhan di Papua
Aksi damai Gerakan Umat Islam Bersatu (GUIB) Magetan, terkait kerusuhan di Wamena, Papua, sebagai wujud kepedulian dan solidaritas terhadap sesama Muslim, berlangsung depan kantor DPRD Magetan Jalan Pahlawan, Kabupaten Magetan, Jatim. (Awin D/Trans89.com)

MAGETAN, TRANS89.COM – Aksi damai Gerakan Umat Islam Bersatu (GUIB) Magetan, terkait kerusuhan di Wamena, Papua, sebagai wujud kepedulian dan solidaritas terhadap sesama Muslim, diikuti sekitar 300 orang dipimpin Imam Yudhianto, berlangsung depan kantor DPRD Magetan Jalan Pahlawan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur (Jatim), Jumat (4/10/2019).

Massa aksi menggunkan 1 mobil komando, 15 Bendera Tauhid dan membentangkan spanduk dan poster bertuliskan, seruan terbuka GUIB Magetan kerusuhan di Wamena, Jayawija, Papua telah memakan korban jiwa rumah terbakar, warga mengungsi dan warga pendatang terpaksa harus eksodus, bangkitlah wahai saudaraku, Muslim Wamena memanggil kita Papua bergejolak, pembunuhan, pembantaian dan pengusiran warga pendatang yang dilakukan oleh perusuh Papua.

Selanjutnya, atasi konflik kemanusiaan membara di Wamena. Kita Muslim, kita peduli saudara kita. Wamena itu bagian dari peta Indonesia bukan peta tetangga, mari tegakkan Sila ke 5 untuk Wamena tercinta, keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Kita Indonesia, kita Wamena kita bantu mereka.

Orasi Imam Yudhianto mengatakan, pemerintah diam dengan adanya warga Muslim di Wamena yang terzolimi, banyak pejabat yang hanya mementingkan kepentingan pribadi.

“Negara harus hadir menjamin perlindungan dan rasa aman bagi seluruh warga Papua dengan mengedepankan martabat dan tanpa kekerasan,” kata Imam.

Menurutnya, media massa banyak yang diam, tidak adanya pemberitaan terkait kerusuhan yang terjadi Wamena.

“Kalau pemerintah tidak bisa menyelesaikan kerusuhan di Wamena yang mana banyak warga Muslim yang jadi korban, kami siap untuk Jihad,” tutur Imam.

Ia menyerukan, bangkitlah Muslim, jangan sampai kita di hina dan di binasakan oleh perusuh, Wamena juga NKRI, tidak boleh ada bendera Bintang Kejora yang berkibar di Papua selain Merah Putih.

“Muslim itu ibarat lebah, kalau di sakiti akan menyengat dan siap melindungi kaumnya dari musuh. Gerakan Umat Islam Bersatu menyatakan turut berdukacita yang mendalam atas korban dari warga Muslim Wamena yang menjadi korban kerusuhan,” sebut Imam.

Dirinya menjelaskan, kalau ada yang menginjak-nginjak umat Islam, kami lebih baik mati sahid karena lebih mulia daripada diam melihat umat Muslim di zolimi oleh gerakan yang ingin merusak Indonesia.

“Hilangnya umat Muslim lebih berat di mata Allah daripada hilangnya bumi dan isinya. Pembunuhan kepada kaum Muslim adalah kemungkaran. Orang yang tidak ada hak membunuh atau mencabut nyawa kaum Muslimin hukumnya wajib dibunuh juga,” jelas Imam.

Kemudian massa aksi menyerahkan pernyataan sikap kepada Kasubag Rumah Tangga DPRD Magetan, Anur Rofik.

Isi surat pernyataan Gerakan Umat Islam Bersatu Magetan, pemerintah daerah (Pemda) di Papua dan Papua Barat, Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kementerian Sosial (Kemensos) agar segera menangani dan memulihkan semua korban kerusuhan di Wamena, Jayapura, Manokwari dan semua daerah terjadinya kerusuhan di Papua dan Papua Barat, termasuk penanganan dan pemulihan yang komprehensif bagi pengungsi yang ada di Wamena.

Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Republik Indonesia (RI) dan Kementerian kementerian/lembaga terkait dijajarannya agar segera berkoordinasi mengambil langkah yang sinergis dan strategis untuk penanganan dan penyelesaian kasus dampak berbagai kerusuhan di Papua dan Papua Barat, dengan mengedepankan prinsip-prinsip dan tanggungjawab negara, perlindungan HAM dan menghindari terjadinya kekerasan atau kerusuhan berulang, serta kemungkinan terjadinya tindakan anarkisme.

Polri dan TNI harus menindak tegas semua pelaku sipil, mengupayakan penanganan kerusuhan dan dampak kasus yang dapat terjadi selanjutnya dengan mengedepankan proses hukum yang adil dan bermartabat. Mencegah terjadinya konflik atau kerusuhan berulang atau meluas, serta jaminan keamanan bagi semua warga dengan menghindari tindakan represif, mengedepankan dialog.

Mendengarkan suara masyarakat pengungsi, karena mereka masih trauma. Mereka menginginkan penarikan pasukan keamanan, untuk menghindari konflik bersenjata, agar mereka dapat kembali ke Nduga dan kehidupan sebelumnya.

Para Alim Ulama, Pimpinan Gereja-gereja dan tokoh agama lainnya serta tokoh lembaga adat, agar turut memberikan perhatian pada penanganan korban kerusuhan dan pengungsi, serta dalam menciptakan situasi damai di tanah Papua.

Semua pihak agar menahan diri, kritis dan tidak menyampaikan informasi bohong (hoax), serta menghindari tindakan-tindakan yang provokatif.

Sebagai wujud kepedulian dan solidaritas terhadap sesama anak bangsa serta keprihatinan yang mendalam atas kondisi yang terjadi di Papua umumnya dan wamena khususnya, GUIB Magetan menyerukan agar masyarakat secara umum dan kaum Muslimin agar mengadakan gerakan sosial pengumpulan donasi untuk membantu meringankan penderitaan, membangun sarana umum dan pemulihan psikologi masyarakat pasca konflik. (Awin/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya