Kelompok Tani Lalembo Dua, Sorimila dan Cando di Dompu Unjuk Rasa di KPH Terkait Lahan Perkebunan

05 October 2019 01:35
Kelompok Tani Lalembo Dua, Sorimila dan Cando di Dompu Unjuk Rasa di KPH Terkait Lahan Perkebunan
Aksi Kelompok Tani Lalembo Dua, Sorimila dan Cando terkait dengan lahan Soromila, berlangsung di kantor KPH Ampang Riwo Soromandi, Pekat, Kabupaten Dompu, NTB. (Dani Setiawan/Trans89.com)

DOMPU, TRANS89.COM – Aksi unjuk rasa Kelompok Tani Lalembo Dua, Sorimila dan Cando diikuti sekitar 100 orang dipimpin Nurdin, Muchtar dan Najamudin, terkait dengan lahan Soromila yang sebelumnya dikelola oleh 3 kelompok tani tersebut diambil alih oleh kelompok tani dari Desa Rababaka, berlangsung di kantor Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Ampang Riwo Soromandi, Pekat, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jumat (4/10/2019).

Awalnya massa aksi bukan untuk melakukan aksi unjuk rasa, tetapi memenuhi panggilan KPH yang sebelumnya sudah di informasikan pada hari Rabu 2 Oktober 2019, dengan tujuan untuk mengesahkan kemitraan 3 kelompok tani dengan KPH serta melakukan tinjau lapangan.

Namun karena pejabat KPH tidak datang, akhirnya massa yang sudah menunggu lama marah dan merasa dipermainkan, sehingga melakukan aksi unjuk rasa di kantor KPH.

Massa aksi kemuidan masuk ke kantor KPH lalu merusak fasilitas yang ada seperti kursi dan meja serta meminta agar haknya diberikan.

Ketua Kelompok Tani Lalembo Dua, Muchtar mengatakan, pihaknya merasa kecewa dengan pejabat dari KPH yang sudah memanggil kelompok tani untuk hadir, namun ketika kami sudah hadir, ternyata pihak KPH tidak ada ditempat.

“Walaupun di kantor terdapat anggota KPH, namun kami merasa tidak puas, karena anggota KPH tidak bisa mengambil keputusan dan hanya pejabat KPH yang dapat mengambil keputusan. Kami sebenarnya tidak ingin melakukan perbuatan anarkis, namun karena merasa dipermainkan, akhiryna seluruh kelompok tani marah dan berlanjut dengan aksi seperti ini,” kata Muchtar.

Perwakilan massa aksi melakukan mediasi dengan KPH yang diwakili staf KPH Fachrudin.

Sekretaris Kelompok Tani Sorimila, Nurdin membeberkan, lahan di Sorimila pertama kali dibuka oleh 3 kelompok tani kami pada tahun 2001 untuk di tanami sonokeling, jambu mente, kayu sengon serta tanaman besar lainnya.

“Setelah tanaman tumbuh, muncul program dari Bupati Dompu periode 2000-2007 Abu Bakar Ahmad untuk melakukan reboisasi, sehingga 3 kelompok tani yang menanam pohon disana diperintahkan untuk turun, karena Pemda Dompu tengah melaksanakan program reboisasi untuk menaikkan debit air,” beber Nurdin.

Ia menyebutkan, setelah ditinggal selama bertahun-tahun, pada tahun 2016 ternyata setelah dilihat kembali, lahan di Sorimila sudah dikelola oleh masyarakat Desa Rababaka serta masyarakat dari luar Dompu.

“Adanya informasi tersebut, kami tidak terima, karena yang berhak mengelola lahan tersebut adalah orang yang pertama kali membuka lahan tersebut, yaitu Kelompok Tani Lalembo Dua, Sorimila, dan Cando,” sebut Nurdin.

Nurdin menjelaskan, saat ini pihaknya sudah membuat proposal kemitraan dengan KPH, karena yang membuka lahan pertama kali adalah 3 kelompok tani dari kami yang datang ke kantor KPH ini.

“Persyaratan dan bukti pengelolaan pertama kali sudah ada. Saat ini tinggal menunggu konfirmasi dari pihak KPH. Selain itu, kamipun meminta agar saat ini warga yang mengelola lahan tersebut segera diusir, karena dalam mengelola lahan tersebut ilegal,” jelasnya.

Tanggapan Fachrudin menyampaikan, pihaknya akan menyampaikan persoalan tersebut kepada pimpinan KPH.

“Selain itu, kami meminta agar perwakilan kelompok tani kembali hadir pada Senin 7 Oktober 2019, untuk kembali mendiskusikan permasalahan tersebut,” paparnya. (Dani/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya