BEM Seluruh Indonesia Unjuk Rasa di Banjarmasin Terkait Gunung Meratus

05 October 2019 01:53
BEM Seluruh Indonesia Unjuk Rasa di Banjarmasin Terkait Gunung Meratus
Aksi bersama BEM Seluruh Indonesia dengan tema, 'menyelamatkan Meratus, menyelamatkan kehidupan', berlangsung di Bundaran A Jalan Lambung Mangkurat, Kertak Baru Ulu, Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, Kalsel. (Ari Bagas Yusuf/Trans89.com)

BANJARMASIN, TRANS89.COM – Aksi bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Seluruh Indonesia (SI) dengan tema, ‘menyelamatkan Meratus, menyelamatkan kehidupan’, diikuti sekitar 100 orang peserta aksi dipimpin Presiden BEM Kalimantan Selatan (Kalsel) M Gulam Reza dan Kopsus BEM SI Nurdiansyah, berlangsi di Bundaran A Jalan Lambung Mangkurat, Kertak Baru Ulu, Banjarmasin Tengah, Kota Banjarmasin, Kalsel, Jumat (4/10/2019).

Tuntutan massa aksi terkait permasalahan bangsa Indonesia saat ini yang carut marut dan tidak tentu arah, diantaranya kontroversi revisi beberapa Undang-Undang (UU) yang dianggap BEM SI bermasalah dan save Gunung Meratus.

BEM luar Kalsel yang hadir di aksi BEM Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), BEM Institut Pertanian Bogor (IPB), BEM Universitas Mataram (Unram), BEM Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, BEM Universitas Lampung (Unila), BEM Universitas Negeri Semarang (UNNES), BEM Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) Sebi Depok, BEM Universitas Andalas (Unand) Padang, BEM Universitas Sriwijaya (Unsri) Palembang, BEM Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), BEM Universitas Riau (Unri).

Massa aksi membawa spanduk dan poster bertuliskan, #Save Meratus #Endcoal (akhir tambang batubara), menyelamatkan Meratus menyelamatkan kehidupan, korporasi kejam kaya mantan, selamatkan rimba terakhir, jangan rusak paru-paru dunia, ini tanah adat kami bukan tanah pemerintah, jangan lupa terimakasih kepada Adat Dayak Meratus karena dari dulu sebelum NKRI merdeka sampai sekarang mampu menjaga Meratus, jangan ada tambang diantara kita, stop kerusakan lingkungan, menjaga lingkungan aja nggak bisa apalagi menjaga pasangan, climate emergenci, reklamasi galian tambang di Kalsel, Meratus paru-paru dunia.

Orasi Presiden BEM Kalsel M Gulam Reza mengatakan, kami disini hadir dengan membawa isu lama, yaitu isu tentang Meratus yang merupakan pegunungan kebanggaan Kalsel yang apabila ditambang sangat merugikan kita masyarakat Kalsel.

“Kita berdiri dan aksi disini untuk memperjuangkan bumi, air dan alam yang ada di Indonesia,” kata Gulam.

Ketua BEM Unmul, Ahmad Jamaludin menyampaikan, lingkungan yang seharusnya di manfaatkan untuk mensejahterakan rakyat dan konsukensi kita bahwa lingkungan untuk anak cucu kita.

“Kebarakan hutan dan lahan (Karhutla) sebagai contoh nafsunya kita sebagai manusia. Warga dan masyarakat Dayak khususnya yang ada di Meratus yang wajib sejahtera dan bahwasanya Borneo merupakan simbol kita semua,” papar Jamaluddin.

Menurutnya, alam diciptakan untuk saling mengimbangi, namun tangan kita malah merusak.

“Untuk itu, kita cerdaskan dengan sama-sama menjaga ekosistem di pengunungan Meratus dan menghilangkan pikiran korup. Sesuai UU 1945 dimana tertuang bumi, alam dan isinya dikelola oleh negara. Untuk itu, sudah wajib kita memperjuangkannya,” tutur Jamaluddin.

BEM Unand, Gamal menyebutkan, kita lihat dari udara, lubang-lubang galian bekas tambang yang ada sudah diisi oleh air-air yang tidak sehat, an itu menandakan ketamakan penguasa tanpa memikirkan dampak yang terjadi.

“Kita ambil kesimpulan, tambang dalam hal ini lubang galian merupakan tindak korupsi jenis baru. Isu tambang bukan hanya isu lingkungan, namun pencemaran lingkungan,” sebut Gamal.

Ia membeberkan, untuk digaris bawahi, bahwa isu yang kita angkat akan berdampak kepada pertanian, yang mana dengan pembebasan lahan akan menghilangkan mata pencarian mereka (warga).

“Penggerusan Meratus jika terus dipaksakan, maka pemerintah telah gagal dalam menjalankan cita-cita kemandirian pangan terutama di Kalsel. Mari kita paparkan kepada masyarakat untuk bersama menjaga Meratus,” beber Gamal.

BEM Unila, Fajar menyampaikan kalau dirinya ingin tegaskan bahwa hari ini tidak ada hak pemerintah untuk mengeksploitasi.

“Bahwa jika memang Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif tidak mampu, maka biarkan rakyat yang bertindak,” papar Fajar.

Kopsus BEM SI, Muhammad Nurdiansyah mejelaskan, tujuan aksi kita dapat menjadi salah satu yang peduli tentang Meratus, karena kita tidak berbicara tentang hari ini, namun juga berbicara tentang hari esok.

“Konsolidasi kami yaitu menyamakan persepsi yang tidak hanya bersifat nasional, namun juga mencari permasalahan-permasalahan yang ada di Indonesia. Pengunungan Meratus menjadi keperluan dan kepentingan kita untuk di jaga dan di perjuangkan,” jelas Nurdiansyah.

Dirinya mengungkapkan, kami atas nama Aliansi Mahasiswa saat ini telah berduka akan jatuhnya korban di Kendari, untuk itu kami tegaskan kepada pihak aparat, bahwa kami juga masyarakat, untuk itu perlakukan kami sebagai manusia.

“Duka tersebut jangan sampai terbawa ke Kalsel dengan pengrusakan gunung Meratus, dan kami berkomitmen akan selalu hadir dalam memperjuangkan Meratus agar tidak di eksploitasi,” ungkap Nurdiansyah.

BEM UIN, Rizal mengatakan, atas nama masyarakat berterimakasih kepada masyarakat adat yang ada di Meratus yang telah menjaga amanat alam, namun kami sangat menyesalkan birokrasi yang ada.

“Apabila gunung Meratus tetap di tambang yang merupakan paru-paru dunia, maka akan berdampak tidak hanya di Indonesia, namun seluruh dunia,” kata Rizal.

Sekedar di ketahui berdasarkan wikipedia.org, Gunung Meratus merupakan kawasan pegunungan yang berada di tenggara Pulau Kalimantan serta membelah Provinsi Kalimantan Selatan menjadi dua. Pegunungan ini membentang sepanjang sekitar 600 kmĀ² dari arah barat daya-timur laut dan membelok ke arah utara hingga perbatasan provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. (Ari/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya