PKBI Gandeng FPAMA Ajak Kaum Muda Berkontribusi Dalam Perubahan Gizi dan Stunting di Aceh

11 September 2019 10:36
PKBI Gandeng FPAMA Ajak Kaum Muda Berkontribusi Dalam Perubahan Gizi dan Stunting di Aceh
PKBI Aceh gandeng FPAMA gelar dialog bertempat di ruang sidang Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Jalan Teuku Nyak Arief, Kopelma Darussalam, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh. (Aljawahir/Trans89.com)

BANDA ACEH, TRANS89.COM – Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Aceh gandeng Forum Perkumpulan Anak, Mahasiswa, dan Akademisi (FPAMA) gelar dialog dengan tema, ‘peran kaum muda Aceh dalam upaya pencegahan dan penanggulangan malnutrisi ibu dan anak,’ bertempat di ruang sidang Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Jalan Teuku Nyak Arief, Kopelma Darussalam, Kecamatan Syiah Kuala, Kota Banda Aceh, Selasa (10/9/2019).

Acara PKBI ini langsung di support oleh Unicef Aceh atau United Nations Emergency Children’s Fund dan tampak begitu tertarik serta antusias para tamu undangan, mahasiswa dan forum anak di Aceh dalam menyimak diskusi dari pemateri.

Direktur Eksekutif Aceh, Eva Khovivah mengatakan, persoalan-persoalan yang kerap terjadi dalam masyarakat baik dalam bentuk stunting yakni kondisi gagal tumbuh anak balita selama 1.000 hari pertumbuhan dan gizi baik untuk anak.

“Era sekarang, generasi Aceh masih sangat deras dalam tahapan proses perubahan pencegahan stunting berjumlah sekitar 16.000 ribu anak gara-gara konflik. Posisi yang masih sulit ini seharusnya sudah bisa kita kontrol ke arah yang lebih normal lagi. Jadi peran pemuda untuk berkontribusi dalam perubahan gizi dan stunting Aceh sangat di junjung dalam kebaikan menolong sesama manusia,” kata Eva.

Kendati demikian, Akademisi Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Hendra Syahputra menyampaikan tentang persepsinya di dalam manajemen komunikasi tentang pertumbuhan stunting di Aceh.

“Strategi yang benar itu ialah dari indikator kesadaran kita sendiri terhadap anak. Jangan kita serta merta menyalahkan orang lain dan terus kita mengubah mindset kita sendiri. Sebagai contoh kecil, kita mulai dari rumah tangga kita sendiri saja, kegiatan pertama kita membangun karakter mereka sendiri dengan kesadaran kita sendiri,” paparnya.

Sosok hendra yang juga akademisi bidang ilmu komunikasi ia juga menyemangati anak muda yang hadir untuk selalu menggunakan media sosial (medsos) yang bisa memberikan kebaikan dan daya persuasif yang baik sebagai pengetahuan baru kepada netizen. Hendra menuturkan, jangan ubah projects orang lain tetapi dengan pola pikiran kita sendiri, namun bisa memberikan yang terbaik untuk keluarga serta bisa membantu yang lain.

“Berkomunikasi pada mindset seperti itu merupakan hal yang harus bisa di andalkan dalam kondisi Aceh seperti ini. Bagaimana kita berpikir untuk melakukan satu saja perubahan terhadap permasalahan anak masa kini, seperti di lakukan oleh Unicef dan PKBI Aceh sendiri,” tutur Hendra

Ia berharap kepada generasi muda saat hendak bekerja haruslah jenius dan profesional dalam menyikapi berbagai hal, apalagi permasalahan negatif untuk masuk ke dalam rangka positif yang terjadi di lingkungan kita sendiri.

“Tugas kitalah sebagai bentuk kepedulian kepada sesama,” harap Hendra.

Hadir dalam paparan materi ini, Surwiyadi selaku dokter Non Government Organization (NGO) dengan gagasan yang disampaikannya bagaimana bentuk upaya menilik rangkaian kondisi anak Aceh belum terlihat begitu peduli terhadap kesehatan anak dan lingkungan.

“Dalam beberapa tahun ini, isu stunting sangat heboh di Aceh, kita sendiri dengan hal itu nama Aceh sekarang juga melayang tinggi di kedudukan nasional. Aceh banyak uang, infrastruktur kita punya, masalah peraturan kita juga ada. Mungkin dengan ini sudah jelas apa yang kita miliki sekarang bukan Aceh itu tidak ada, tapi rasa kepedulian kita yang tidak sadar dalam bekerja,” ujar Surwiyadi.

Sebagai anak muda Aceh, Lanjut Surwiyadi, kita wajib tahu dan harus mengatur pola makan dan minum untuk perkembangan gizi itu sangat penting dan olahraga untuk kesehatan jasmani terus di rutinitaskan.

“Karena setiap dari anak-anak sampai remaja harus ada perubahan terhadap perkembangan tubuh dengan cara yang terstruktur makanan dan minuman. Persatuan pemuda Aceh ini agar selalu bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Aceh untuk kesejahteraan pertumbuhan giizi baik anak di masa mendatang,” demikian Surwiyadi.

Acara Dialog PKBI Aceh ini didukung oleh Unicef Aceh, NGO Aceh, Dinas Kesehatan Aceh dan Bappeda Aceh. (Alja/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya