Menolak Lupa, BEM UNS di Solo Gelar Mimbar Bebas Kasus Pembunuhan Munir

11 September 2019 10:49
Menolak Lupa, BEM UNS di Solo Gelar Mimbar Bebas Kasus Pembunuhan Munir
Aksi mimbar bebas Munir dan penegalam Hukum HAM Indonesia yang di gelar BEM UNS, berlangsung di Boulevard pintu masuk gerbang Kampus UNS, Jalan Ir Sutami, Kelurahan Kentingan Baru, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, Jateng. (Muhammad Husni Thamrin/Trans89.com)

SURAKARTA, TRANS89.COM – Bertempat di Boulevard pintu masuk gerbang Kampus Universitas Negeri Surakarta Sebelas Maret (UNS), Jalan Ir Sutami, Kelurahan Kentingan Baru, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta, Jawa Tengah (Jateng), berlangsung aksi mimbar bebas Munir dan penegakan Hukum HAM Indonesia dengan tema, ‘aku harus bersikap tenang walaupun untuk membuat semua orang tidak takut.

Aksi mimbar bebas Munir tersbut, dalam rangka memperingati 15 tahun Munir di bunuh, yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNS, diikuti sekitar 70 orang peserta aksi dan koordinator lapangan (Korlap) Reyhandhi Alfian Muslim, Selasa (10/9/2019).

Orasi Reyhandhi Alfian Muslim mengatakan, September ini merupakan bulan kelam bagi penegakan Hukum dan HAM Indonesia, pasalnya, di bulan itu begitu banyak pelanggaran Hukum dan HAM, setidaknya ada tragedi Tanjung Priuk, Semanggi 2, G/30/S-PKI dan kasus Munir, semua kasus tersebut belum selesai dan menjadi catatan hitam penegakan Hukum dan HAM di Indonesia.

“Munir adalah aktivis HAM, ia adalah sosok yang lantang membela kaum tertindas dan terpinggirkan oleh kesewenangan, ia di racun di dalam pesawat, ia di bunuh pada tanggal 7 September 2004 lalu, ia orang baik yang memperjuangkan untuk orang lain, hanya orang jahat yang menghilangkan dengan cara yang jahat juga dengan cara di bunuh,” kata Alfian.

Ia mengungkapkan, siapa pelakunya, siapa aktor intelektualnya, siapa dalangnya sudah 15 tahun berlalu tapi belum terlihat titik terangnya. Apa kabar TGPF (tim gabungan pencari fakta) Munir?.

“Apakabar pemerintah dengan segala janjinya menuntaskan kasus HAM masa lalu? Tentu orang-orang dibalik pelanggar HAM yang masih bebas berkeliaran akan menjadi ancaman bagi kita semua,” ungka Alfian.

Dirinya menjelaskan, maka hari ini kami memutuskan untuk tidak bungkam, untuk menyuarakan kebenaran untuk menolak lupa terhadap pelanggaran HAM masa lalu.

“Mimbar bebas ini merupakan sarana kita untuk menolak lupa atas pelanggaran Hukum dan HAM di bulan September ini, agar menjadi senapan pengingat negara untuk serius menuntaskan pelanggaran HAM di masa lalu yang tidak tuntas,” jelas Alfian.

Press rilis mimbar bebas dibagikan massa aksi dengan isi tertulis, ‘Munir dan penegakan hukum HAM Indonesia refleksi 15 tahun Munir dibunuh’.

‘Surakarta (10/9) – September merupakan bulan kelam bagi penegakkan Hukum dan HAM Indonesia. Pasalnya, di bulan ini begitu banyak kasus pelanggaran hukum dan HAM. Setidaknya ada tragedi Tanjung Priok, Semanggi 2, G/30/S dan salah satunya adalah kasus Munir’.

‘Tentunya semua kasus tersebut belum selesai dan menjadi catatan hitam penegakkan Hukum dan HAM di Indonesia. Munir Said Thalib atau akrab disapa Munir adalah aktivis HAM. Ia adalah sosok yang lantang membela kaum tertindas dan terpinggirkan oleh kesewenangan. Ia diracun di dalam pesawat dalam perjalanannya melanjutkan studi ke Belanda. Ia dibunuh tepat pada tanggal 7 September 2004 lalu. Ia adalah orang baik yang memperjuangkan kebaikan untuk orang lain. Hanya orang jahat yang menghilangkan penghalangnya dengan cara yang jahat juga. Itulah yang terjadi terhadapnya, dibungkam dengan cara dibunuh’.

‘Siapa Pelakunya? Siapa aktor intelektualnya? Siapa dalangnya. Tentu hingga saat ini kita masih terus bertanya-tanya akan hal itu. Sudah 15 tahun berlalu, akan tetapi sampai hari ini belum juga terlihat titik terangnya. Apa kabar TGPF Munir? Apa kabar pemerintah dengan scgala janjinya menuntaskan kasus HAM masa lalu termasuk kasus Munir’.

‘Kenapa semua bungkam? Tentunya orang-orang dibalik pelanggar HAM yang masih bebas berkeliaran akan menjadi ancaman kita semua yang lantang menyuarakan kebenaran. Maka hari ini kami memutuskan untuk tidak bungkam, untuk kembali menyuarakan riak-riak kebenaran, untuk menolak lupa terhadap pelanggaran-pelanggaran HAM masa lalu lermasuk kasus Munir’.

‘Mimbar bebas ini merupakan sarana kita merawat ingatan dan #MenolakLupa atas pelanggaran-pelanggaran Hukum dan HAM di bulan September. Menjadi corong untuk mengekspresikan pendapat setiap insan yang merdeka atas dirinya. Dan menjadi senapan-senapan pengingat negara untuk serius menyelesaikan kasus-kasus HAM masa lalu yang banyak tak tuntas. Di akhir kata, kami akan tetap merawat ingatan dan #MenolakLupa atas kasus-kasus pelanggaran Hukum dan HAM, apapun itu’! (Husni/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya