Firandaku Sayang, Firandaku Malang

03 September 2019 17:38
Firandaku Sayang, Firandaku Malang
PENCERAHAN. Ustaz Dr. Firanda Andirja Abidin, Lc., M.A saat diundang di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) beberapa waktu lalu. (Foto:Dok)

LAMA sudah aku tak berjumpa dengan para pembacaku semenjak kesibukan KKN-ku lebih 2  tahun lalu. Kini aku kembali dengan sedikit kebingungan dari sebuah berita di kabarsulbar.com tentang kedatangan Ust. Dr. Firanda Andirja, Lc., M.A. ke Lita’ Mandar yang membuat sebagian orang magarese.

Cukup geli juga sich saya, ada acara Dialog Kebangsaan dengan tema Menangkal Gerakan Radikalisme Masuk Kampus kemudian menyebutkan 10 ciri-ciri paham radikalisme kemudian mengait-ngaitkannya dengan Ust. Dr. Firanda Andirja, Lc., M.A. Pertanyaanku satu untukmu Mas, “Apa elo’mu?”

Bingung aku menghadapimu, harus menguraikan siapa Ust Firanda ataukah harus menjawab tuduhan radikal orang bodoh yang di sana. Saya teringat dengan kisah Bunda Aisyah yang dituduh berbuat keji yang pada ending-nya memenangkan “pertempuran” dengan sangat indah dan diabadikan Al Qur’an. Namun ini bukan tentang kisah Bunda Aisyah, ini tentang kisah Ust. Firanda.

Sekilas info saja, beliau Ust. Dr. Firanda Andirja, Lc., M.A. adalah salah satu putra terbaik bangsa Indonesia karena beliau menjadi salah satu da’i yang dipercaya Kerajaan Arab Saudi untuk mengisi pengajian berbahasa Indonesia di Masjid Nabawi. Jadi mua’ diang keluargata’ dai’ di Tanah Suci mungkin malai dipatule’ mua’ polei, apakah sitai Ust. Firanda di Madinah atau andiang.

Beliau bukanlah orang sembarangan, beliau adalah seorang doktor pakar akidah Islam alumni Universitas Islam Madinah yang dipercaya Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam memberikan pemahaman kepada umat Islam di Indonesia akan kesesatan-kesesatan paham Syi’ah.

Sekarang kita kembali ke acara Seminar Kebangsaan kemarin. Dalam berita disebutkan kekecewaan Ketua GP Anshor Sulbar karena Bapak Kapolres Polman mengundang Ust. Firanda untuk memberikan tausiyah kepada masyarakat di Polman yang direncanakan pada Senin (2/9) yang akhirnya dibatalkan karena pertimbangan maslahat. Memangnya ada apa dengan Ust. Firanda? Cemburu dengan keilmuan beliau? Masa iya Majelis Ulama Indonesia

memilih seorang Doktor Firanda menjelaskan kesesatan Syi’ah kalau beliau da’i bermasalah? Plis dech, cobalah piknik sedikit, biar ga’ tiba-tiba jadi majelis fatwa gitu lho.

Sudah menyebut ciri-ciri paham radikalisme, lalu menyinggung Ust. Firanda. Maksud ente apa Mas? Kalau Ust. Firanda da’i radikal mengapa Majelis Ulama Indonesia tidak bertindak? Mari kita duduk bersama, jelaskan apa mupomelo’. Mua’ melo’ do’o palakang siala iyau mo dolo’ pipindiolo.

Terus terang ya Mas, 10 poin ciri-ciri paham radikalisme yang disinggung itu tidak jelas arahnya, dan tidak berkaitan dengan Ust. Firanda sedikitpun.

Poin 1, “Mengajak kembali kepada Al Qur’an dan Hadits tanpa ittiba’ kepada ulama.” Justru dalam ceramah-ceramah beliau selalu mengajak kembali kepada Al Qur’an dan Hadits dengan berdasarkan kepada pemahaman ulama. Mana mungkin bisa memahami Al Qur’an dan Hadits tanpa merujuk pendapat ulama?

Poin 2, “Percaya bahwa perubahan (baik agama maupun negara) hanya bisa dilakukan secara menyeluruh dengan cara ekstrem/melampaui batas kewajaran, bukan cara bertahap.” Sudah tabayyun ke Ust. Firanda kalau beliau berpemahaman begini? Saran saya cukup baca Al Qur’an saja, surah 24 ayat 55.

Poin 3, “Memaksakan pemahaman ekstrem khawarij.” Dudukkan dululah masalahnya khawarij itu apa. Kalau berkesimpulan Ust. Firanda khawarij, berarti Majelis Ulama Indonesia yang percaya keilmuan beliau khawarij juga dong?!

Poin 4, “Tidak mengakui tradisi yang sudah mengakar.” Justru tradisi dalam Islam itu menjadi sumber rujukan jika tidak ada rinciannya dalam agama. Masa dibilang menentang tradisi?

Poin 5, “Semangat beragama terlalu tinggi.” Justru ini yang diharapkan kita ber-Islam Mas. Baca ki’ Al Qur’an surah 3 ayat 102, surah 2 ayat 208, jelas kita diperintah berpegang teguh kepada Islam, ber-Islam secara menyeluruh. Radikalnya di mana Mas?

Sampai-sampai masalah jenggot dan celana cingkrang dige’ges juga. Siapa anda dibanding Imam An Nawawi yang berpendapat untuk memelihara jenggot? Siapa anda dibanding Imam Ibnu Hajar Al Asqolani yang berpendapat isbal itu tidak boleh secara mutlak?

Poin 6, “Memaksakan kehendak.” Tolong dech Mas, bedakan ki’ mana yang namanya menjelaskan hukum dan mana yang namanya memaksakan kehendak. Orang menjelaskan hukum itu ya dicerna dulu, benar atau salah? Sampe katanya mau memberangus Aswaja. Ceh kasi’na. Da lewa’ bega ma’basa tomalolo!!

Poin 7, “Mengklaim kebenaran Islam hanya ada pada kelompoknya.” Buktikan Mas, kapan Ust. Firanda ngomong gitu?

Poin 8, “Mengedepankan buruk sangka, merasa paling aman dari murka Allah.” Allahu akbar. Kapan beliau mengatakan bahwa beliau merasa aman dari murka Allah? Dikatain juga “merasa paling nyunnah sejagat akhirat”, eh Mas, ini kita masih di dunia lho, kenapa ada akhirat di antara kita?

Poin 9, “Menumbuhkan teror dan vandalisme, menghancurkan makam para wali atas nama khurafat.” Memang makam siapa yang sudah dirusak Ust. Firanda atuh Mas? Da sangga’ pelloa!

Poin 10, “Menuduh ziarah wali sebagai penyembah kubur, Pancasila disebut thogut, NKRI negara kafir, dll.” Mas, beda ziarah kubur dengan menyembah kubur! Apa mupoloa? Ziarah kubur itu disyariatkan dalam Islam, jangan mengaburkan permasalahan! Katanya juga Pancasila disebut thogut. Justru Ust. Firanda menyerukan untuk senantiasa taat kepada pemerintah sebagaimana tertulis di dalam Al Qur’an surah 4 ayat 59. Sungguh harimau tak sebanding lisanmu Mas!

Lalu masalah NKRI katanya negara kafir. Baca baik-baik! Para ulama Timur Tengah sudah memfatwakan bahwa Indonesia adalah negara Islam, bahkan oleh guru-guru Ust. Firanda sendiri, dan pendapat itu dipegang kuat oleh Ust. Firanda. Setan mana yang membisikkan ke telinga sampeyan kalau Ust. Firanda berpemahaman NKRI negara kafir?

Mas, saya ini orang Mandar, Campalagian tulen! Orang Mandar itu punya nilai adab yang luhur Mas. Cara ente menyebar fitnah dengan mengait-ngaitkan permasalahan yang tidak ada kaitannya dengan Ust. Firanda itu mengusik darah saya, hanya ingin membangun opini lewat teori balle-balle’! Justru cara menyebar fitnah inilah yang menimbulkan kekacauan dan keributan di masyarakat yang harusnya ditindak.

Namun dengan adanya berita ini, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Ketua GP Anshor yang telah membuat iklan ini. Sekarang pembaca bisa menilai sendiri siapa yang beradab dan siapa yang berotak. Saya merasa kasihan saja beliau ini kurang piknik.

Kemudian terakhir, mua’ diang masalah ya dipakoro macoa-coai kambe’ apa masalahna. Kita ini orang Mandar punya adab tomalolo, da mallibatkan to andiang mengerti persoalan. (*)

 

Ditulis oleh : Ramlan Pergis Al Mandari

S1 Pendidikan Agama Islam IAI DDI Polewali Mandar

Pengurus Pondok Pesantren Ansharussunnah Polewali

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya