Aksi Mimbar Bebas Mahasiswa Papua Depan Kampus UKSW Salatiga Tolak Rasis

23 August 2019 03:25
Aksi Mimbar Bebas Mahasiswa Papua Depan Kampus UKSW Salatiga Tolak Rasis
Aksi mimbar bebas mahasiswa Papua yang kuliah di UKSW menolak rasis yang terjadi di Surabaya dan Kota Malang, berlangsung depan Kampus Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Jalan Pangeran Diponegoro, Kota Salatiga, Jateng. (Muhammad Husni Thamrin/Trans89.com)

SALATIGA, TRANS89.COM – Bertempat di depan Kampus Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Jalan Pangeran Diponegoro, Kota Salatiga, Jawa Tengah (Jateng), berlangsung aksi mimbar bebas mahasiswa Papua yang kuliah di UKSW menolak rasis yang terjadi di Surabaya dan Kota Malang, diikuti sekitar 125 orang peserta aksi dan koordinator lapangan (Korlap) Yance Murib, Kamis (22/8/2019).

Massa aksi membawa spanduk dan poster bertuliskan, hentikan rasisme manusia Papua. Stop rasisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya. Save Papua. Lebih terhormat yang mana monyet cari ilmu di rumah manusia atau manusia cari makan di rumah monyet. Tarik TNI dan Polri dari Nduga Papua. Say no to racist (Katakan tidak pada rasis). Perjanjian New York 15 Agustus 1962 perjanjian legal yang dilakukan oleh kolonial Indonesia. TNI stop provokasi warga. Papua bukan NKRI. RIP media Indonesia save Papua. Stop intimidasi dan diskriminasi terhadap Papua di Surabaya. Save Nduga Papua. Kami Bangsa West Papua (Papua Barat) bukan monyet stop rasis. Berikan hak menentukan nasib sendiri. Jika mahasiswa Papua di Jawa pulang, orang Jawa di Papua harus pulang juga. Masalah rasisme solusinya referendum. Orang Papua butuh kehidupan kemanusiaan bukan pembangunan. Segera bebaskan 42 mahasiswa. Kami solidaritas mahasiswa Papua Salatiga menolak dan mengutuk keras tindakan rasisme dan radikalisme. Berikan hak menentukan nasib sendiri untuk mengakhiri rasisme dan penjajahan di Papua.

Orasi Yance Murib mengatakan, kami mahasiswa Papua yang bersekolah di UKSW mempunyai orang tua dan keluarga di Papua, keluarga dan masyarakat Papua selalu di diskriminasi, dan sekarang ini kami dikatakan monyet, dan ini kejadian bukan yang pertama.

“Sekarang ini, semua mahasiswa Papua di semua Kabupaten/Kota seluruh Indonesia bergerak, bereaksi terhadap rasisme yang kami rasakan. Kita jangan percaya terhadap pemberitaan, karena sudah disusupi oleh propaganda kepentingan TNI/Polri,” kata Yance.

Menurutnya, di negara ini terlalu banyak orang pintar tapi tidak jujur, kejadian demi kejadian diputar balikan oleh media yang dikendalikan oleh orang pintar Indonesia.

“Sekarang kita jangan takut, informasi berita propaganda Hoaks selalu ditebarkan, kejadian di politisasi, maka setelah ini kita akan eksodus, pulang bangun Papua. Kita mahasiswa sampai tua tetap akan belajar, di Papua juga ada Kampus. Insiden rusak Bendera Merah Putih dibuang di got itu tidak ada, itu hoaks, nyatanya disini di Salatiga, mahasiswa Papua tidak ada, tidak pernah Bendera Merah Putih yang kita rusak dan buang got,” tutur Yance.

Selain berorasi, massa aksi juga membagikan selebaran. (Husni/Nis)

Selebaran yang dibagikan massa aksi depan Kampus Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Jalan Pangeran Diponegoro, Kota Salatiga, Jateng. (Muhammad Husni Thamrin/Trans89.com)

 

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya