Polres Matra Tetapkan Dua Tersangka Pengadaan Bibit Kecambah Sawit

13 August 2019 15:03
Polres Matra Tetapkan Dua Tersangka Pengadaan Bibit Kecambah Sawit
Gelar perkara yang dilakukan Penyidik Unit Tipikor di Aula Satreskrim Polres Matra dipimpin Kasat Reskrimum AKP Rubertus Roejito dan dihadiri Kapolres Matra AKBP Made Ary Pradana, Kasi Propam Polres Matra Ipda Pujiono, Para Kanit serta Kaur Mintu serta Personil Tipikor Satreskrim Polres Matra. (Junaedi Yasin/Trans89.com)

PASANGKAYU, TRANS89.COM – Setelah melakukan gelar perkara dua kali, akhirnya Unit Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Satuan Reskrim (Satreskrim) Polres Mamuju Utara (Matra) menetapkan HS dan HM menjadi tersangka.

Dari penyelidikan masuk keranah penyidikan, Tim Unit Tipikor Satreskrim Polres Matra menetapkan dua orang menjadi tersangka dugaan korupsi pengadaan bibit kelapa sawit pada kegiatan bibit unggul perkebunan Dinas Perkebunan Provisni Sulawesi Barat (Sulbar) tahun anggaran 2013.

Kedua tersangka adalah HS (47) dan HM (42) ditetapkan Penyidik Unit Tipikor Satreskrim Polres Matra berdasarkan alat bukti yang dikuatkan dari hasil gelar perkara pada hari Selasa tanggal 6 Agustus 2019, pukul 14.00 Wita dan Rabu tanggal 7 Agustus 2019 pukul 13.30 Wita, di Aula Satreskrim Polres Matra dipimpin Kasat Reskrimum AKP Rubertus Roejito dan dihadiri Kapolres Matra AKBP Made Ary Pradana, Kasi Propam Polres Matra Ipda Pujiono, Para Kanit dan Kaur Mintu serta Personil Tipikor Satreskrim Polres Matra.

Gelar Perkara sendiri dilaksanakan berdasarkan Laporan Polisi Nomor LP /23/VI/2019/SPKT/RES Matra, tanggal 24 Juni 2019 dan Surat Perintah Penyidikan (SPP) Nomor SP. Sidik/19.a/VI/2019/Reskrim, tanggal 24 Juni 2019.

Setelah melakukan gelar perkara dan diskusi yang alot, akhirnya penyidik menarik kesimpulan untuk meningkatkan status dari saksi menjadi tersangka dengan pertimbangan
bahwa pengadaan bibit sawit Dinas Perkebunan Provinsi Sulbar yang dilaksanakan oleh HS diduga terjadi penyimpangan tidak sesuai dengan ketentuan dalam pengadaan barang dan jasa dan tidak mematuhi kewajibannya sebagaimana yang telah di sepakati dalam Surat Perintah Kerja (SPK) atau kontrak.

Selain itu, diduga adanya kerjasama yang tidak sehat, dimana dokumen pembelian kecambah sawit dari PT Bakti Tani Nusantara, Batam, Kepualuan Riau (Kepri) yang dimasukkan dalam dokumen penawaran CV Menara Konstruksi diduga di rekayasa, dan HM selaku anggota kelompok (Pokja) menetapkan CV Menara Konstruksi sebagai pemenang lelang meskipun tidak memenuhi persyaratan teknis lelang, serta tidak mengecek keaslian dokumen penawaran CV Menara Konstruksi dan diduga menerima fee, serta HS selaku pelaksana kegiatan menyerahkan hanya sebagian bibit sawit kepada 11 kelompok tani (Poktan) penerima bibit di wilayah Mamuju Utara (Pasangkayu) untuk direalisasikan penyaluran bibit sawitnya kepada 11 Poktan tidak sesuai SPK.

Kasat Reskrim Polres Matra, AKP Rubertus Roejito saat dikonfirmasi mengungkapkan, berdasarkan SPK atau kontrak volume bibit sebanyak 66.111 untuk 3 wilayah, yakni Mamuju, Mamuju Tengah (Mateng) Mateng dan Matra.

“Untuk volume bibit sawit diwilayah Matra yang disalurkan ke Poktan tidak sesuai volume kontrak, sehingga ada selisih bibit sawit yang tidak disalurkan. Dan berdasarkan hasil audit investigasi Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), potensi kerugian keuangan negara sebesar Rp912.503.390 yang di keluarkan oleh BPKP pada tanggal 12 Desember 2018. Untuk kedua tersangka, akan dikenakan Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 Undang-undang UU) RI Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah UU RI Nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan Tipikor jo Pasal 55 ke-1e KUHPidana. Tersangka akan dilakukan pemeriksaan minggu depan,” ungkap AKP Rubertus di Pasangkayu, Selasa (13/8/2019). (Junaedi/Nis)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya