Jika Digelar Berhari – Hari, Sabung Ayam Murni ‘Pelecehan Adat’

03 June 2019 15:28
Jika Digelar Berhari – Hari, Sabung Ayam Murni ‘Pelecehan Adat’
Pasamboan Pangloli

Oleh : Pasamboan Pangloli
Sesepuh Adat Talinga Rara’ Mata Bulawan/Tomakaka Messawa

SUNGGUH banyak pertanyaan kepada saya, apakah judi sabung ayam adalah salah satu bentuk ajaran adat?, tetapi saya selalu memberikan penjelasan sesuai adat kebiasaan masyarakat Talinga Rara Mata Bulawan mencakup wilayah administratif pemerintahan Messawa dan Sumarorong.

Ajaran adat di wilayah Pitu Ulunna Salu Kondo Sapata Wai Sapalelean sesungguhnya sama, bahwa tidak ada ajaran adat yang mengesahkan atau mengajari masyarakatnya berjudi. Sehingga dalam tulisan ini, saya membatasi wilayah yaitu hanya di komunitas adat Talinga Rara Mata Bulawan, mulai dari Kecamatan Sumarorong sampai ke Desa Kelapa Dua di Kecamatan Anreapi, Kabupaten Polman, termasuk Desa Kurrak, Kecamatan Tapango, Kabupaten Polman.

Ada dua kelompok besar masyarakat, yaitu kelompok adat dan kelompok non adat. Kelompok adat adalah keluarga keturunan adat misalnya, Tomakaka atau Parengnge. Banyak orang menyatakan bahwa Parengnge itu bukan adat, tetapi perlu dipahami bahwa Parengnge adalah nama gelar bagi seorang pemangku pemerintahan pada jaman penjajahan Belanda, yang mana kita tahu bahwa Belanda adalah Negara Kerajaan.

Karena negara kerajaan, maka saat menjajah Indonesia, Pemerintah Belanda merekrut para sultan, raja, pemangku adat, pemimpin theokrasi, dan lain – lain. Dalam satu wilayah bekerjasama dengannya sebagai pelaksana pemerintahan Kerajaan Belanda, sehingga Parengnge dan keturunannya adalah sah sebagai adat.

Bahwa sesungguhnya hampir semua masyarakat adalah adat, karena mereka adalah pelaku – pelaku adat dan akibat karena kawin mawin sehingga memiliki hubungan darah dengan kaum adat tetapi mereka bukan keturunan langsung, sehingga dalam tulisan ini saya sebut non adat.

Apabila seorang yang disebut adat meninggal dunia, maka sangat ‘TABU’ melakukan judi sabung ayam yang dalam bahasa kami disebut PARAMISI dengan alasan di atas bahwa tidak ada ‘ADAT’ manapun mengajari masyarakatnya berjudi dalam bentuk apapun.

Apabila seorang dari kaum adat baru saja meninggal, maka dilakukan rembuk keluarga membicarakan apakah almarhum/almarhumah DIALLUN (Disimpan) atau tidak. Dalam acara rembuk tersebut dibicarakan kemampuan kekayaan almarhum/almarhumah atau kemampuan keluarga, sehingga disepakati bahwa akan DIALLUN dengan cara DIPEPITU, DIPEKASERA, DIPEDUAKKASERA, DIPETALLUKASERA atau SUNDUN.

Setiap tingkatan Rambu Solok dibutuhkan jumlah kerbau yang akan dikorbankan atau disembelih itu berbeda – beda. Jika Keluarga hanya mampu 3 sampai 4 ekor, maka cukup dengan DIPETALLU. Kalau yang siap 7 ekor maka DIPEPITU dan seterusnya sampai jumlah kerbau tidak dibatasi yang oleh Adat disebut ALUK SUNDUN. Mulai dari DIPEPITU sampai ALUK SUNDUN semuanya disebut MANGNGALLUN.

Keluarga non adat juga dapat MANGNGALLUN tetapi hanya sampai batas DIPEKASERA sepanjang masih ada hubungan darah dengan pemangku adat. Bahkan yang tidak ada hubungan darah sedikitpun tetapi kaya boleh juga MANGALLUN tetapi hanya boleh DIPEPITU dengan jumlah kerbau korban minimal 7 (Tujuh) dan tidak dibatasi banyaknya tetapi harus sudah dianggap siap pada saat almarhum baru saja meninggal. (Kalau di masyarakat adat Simbuang Mappak ada Tingkatan Adat Mangngallun disebut DIPELIMA).

Semua kerbau yang akan dipakai harus sudah siap sesaat setelah meninggal. Ada komunitas adat memiliki kebiasaan menyimpan mayat bertahun – tahun, karena menunggu kapan keluarga atau keturunan almarhum sukses tetapi itu tidak berlaku bagi masyarakat kami khususnya Masyarakat Talingarara’ Matabulawan.

Pada keluarga yang non adat boleh saja melaksanakan judi sabung ayam, tetapi terlebih dahulu harus meminta maaf kepada pemangku adat dan atau pemerintah yang berwenang, sehingga disebut PERMISI (Paramisi). PARAMISI sebenarnya adalah pelanggaran etika adat, sehingga harus memohon ijin sebelum melaksanakannya dan tentu dengan persyaratan – persyaratan seperti yang uraian dibawah ini.

Setiap adu ayam dalam acara PARAMISI maka ada di sebut DOIK POOK atau UPETI atau UANG PAJAK yang disetorkan ke keluarga yang berduka sebagai pelaksana PARAMISI biasanya berkisar 10% dari setiap taruhan yang disepakati oleh komunitas sabung ayam.

PARAMISI (sabung ayam) sesuai ajaran kearifan lokal tidak boleh dilakukan berhari – hari tetapi dilakukan hanya sekali saja untuk menutupi pengeluaran kecil – kecilan seperti membeli kopi, sirih atau rokok, gula, dan lain – lain.

Hasil POOK dari acara PARAMISI ini sangat dilarang untuk dipakai membeli kerbau, babi dan beras yang akan digunakan dalam acara MANGNGALLUN, karena setiap keluarga MANGNGALLUN pasti orang orang mampu dan hitungan – hitungan hewan yang akan disembelih pada saat akan dilaksanaa penguburan (Mebaba’) sudah dibicarakan dalam internal keluarga.

Saya selaku penulis sekaligus selaku pengurus Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sulawesi Barat (Sulbar) dengan tegas menyampaikan bahwa Kegiatan sabung ayam (PARAMISI) disetiap acara kematian (Rambusolo’) tidak di perbolehkan untuk dilaksanakan berhari – hari apalagi berbulan – bulan. Jika sabung ayam (PARAMISI) dilaksanakan berhari – hari atau berbulan – bulan, maka itu murni ‘pelecehan adat’.

Pihak Kepolisian berhak memberikan izin keramaian terhadap pelaksanaan pesta adat, pihak Kepolisian memberikan izin keramaian bukan kepada pelaksanaan aduh ayam (PARAMISI), sehingga jika ditemukan ada acara Rambusolo’ menggelar adu ayam berhari – hari, maka adat tidak menghalangi pihak Kepolisian untuk menegur, memberhentikan, membubarkan, bahkan menindak para pelaku judi sabung ayam. (*)

Trans89.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya